TIGA HURUP YANG MEMATIKAN, Agung Aji Perdana Dosen Universitas Malahayati Lampung

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG.COM-

Saat beranjak dari menyelesaikan tugas akademik yang berkaitan dengan pelayanan pada masyarakat, penulis berjumpa dengan seorang laki-laki renta yang berjalan terhuyung, seolah membawa beban berat dipundaknya. Hal ini menjadi ketertarikan penulis untuk lebih seksama memperhatikan yang bersangkutan dengan parameter medis yang penulis miliki.

Saat disapa dan diajak sedikit dialog ternyata beliau memang sedang minum obat yang harus dihabiskan selama 6 bulan, dan ini merupakan bulan kedua rutinitas itu harus beliau lakukan. Setelah di telusuri lebih lanjut  ternyata obat itu adalah obat yang wajib di konsumsi oleh penderita TBC. Berdasarkan informasi digital penyakit ini merupakan kelompok penyakit menular yang menyebabkan kematian nomor satu di dunia.

Sebelum lebih jauh kita membahas tentang pengobatannya, kita dalami terlebih dahulu apa itu TBC dan apa yang menyebabkan orang mengalami TBC. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang paling sering menyerang sistem pernafasan kita. Banyak faktor yang menjadi penyebab penularan TBC termasuk kebiasaan merokok, hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang merokok memiliki risiko 73 persen lebih tinggi terinfeksi TBC. Selain merokok riwayat kontak serumah melalui media yang dipakai bersama juga menjadi penyebab penularan TBC. 

Sambil duduk di teras rumah, kami melanjutkan obrolan, ternyata bukan hanya bapak itu yang mengalami hal tersebut, cucu perempuannya yang masih berusia 6 tahun juga mengalami keluhan yang sama. Hal ini membuat saya berfikir bahwa memang betul resiko penularan TBC sangat tinggi terutama apabila dirumahnya terdapat penderita TBC. 

Pemerintah dalam hal ini sedang tidak baik-baik saja, Indonesia menempati urutan kedua setelah India dengan jumlah kasus dan kematian yang tinggi. Langkah-langkah strategi penanganan TBC pun sedang di gencarkan, tetapi di lapangan masih banyak masalah yang muncul antara lain : komitmen pimpinan, stigma sosial masyarakat terkait TBC, sistem pencatatan dan pelaporan TBC, termasuk kurangnya kesadaran penderita untuk minum obat selama 6 bulan. 

Jika kita simak lebih dalam ternyata provinsi ini Tahun 2023 berhasil menemukan kasus TBC sebanyak 19.467 kasus. Artinya semakin banyak kasus di temukan dan di obati, semakin kecil resiko penularan di masyarakat. Penemuan penderita TBC di lakukan dengan cara penemuan secara aktif, setiap menemukan satu orang penderita TBC petugas kesehatan bersama kader harus mampu mencari kasus tambahan di keluarga dan masyarakat. 

Penemuan kasus TBC juga bisa dilakukan dengan pasif insentif yaitu dengan melakukan skrining TBC di seluruh unit layanan fasilitas kesehatan sehingga orang yang diduga menderita TBC bisa terdeteksi secara dini di fasilitas kesehatan terdekat, dan sudah seharusnya tanpa bayar.

Apabila dinyatakan positif TBC, maka masyarakat bisa menggunakan fasilitas kesehatan lanjutan seperti pengobatan, pemantauan kesehatan selama 6 bulan secara gratis. Hal ini merupakan komitmen Provinsi ini dimana angka keberhasilan pengobatan TBC Tahun 2023 sudah mencapai target.

Pemerintah tidak mungkin menyelesaikan permasalahan ini hanya sendirian, tetapi harus melibatkan semua pihak termasuk keluarga dan aparat pemerintah sampai dengan Tingkat desa yang paling bawah. Celah yang paling mungkin dalam pemberantasan penyakit menular adalah dengan memanfaatkan Dana Desa untuk upaya pencegahan penularan dan penemuan kasus di masyarakat, karena : lebih baik masyarakat sehat daripada di korupsi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Sehat itu memang mahal, tetapi lebih mahal lagi jika kita sudah jatuh sakit.

Parameter sehat bukan hanya milik petugas kesehatan atau pemerintah, tetapi esensinya adalah milik kita Bersama, oleh sebab itu menjadikan masyarakat sehat harus dimulai dari individu yang sehat. Betapa besar beban ekonomi keluarga jika ada anggotanya yang menderita penyakit dengan durasi pengobatan yang panjang, termasuk didalamnya TBC.

Untuk mencegah “pengisolasian” penyakit menular di masyarakat oleh masyarakat karena stigma sosial yang terbangun tidak rasional, perlu diadakan edukasi kesehatan bersama unsur terkait dengan unjung tombak petugas Kesehatan Masyarakat yang ada di wilayah itu.

Sehat tidak perlu sakit, tidak sakit adalah indikasi sehat.


Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)