Pak Bupati Hamartoni Bantu Saya: Kisah Haru Pedagang Ikan Demi Kesembuhan Anak Bocor Jantung

$rows[judul] Keterangan Gambar : Askari Memohon Bantuan Bupati Lampung Utara dan Para Dermawan Untuk Kesembuhan Anakya yang Sakit Jantung (mitra)

MITRA TV LAMPUNG.COM  -

Lampung Utara. 

" Bapak Bupati Hamartoni tolong bantu saya, anak saya perlu minum susu karena dia sakit bocor jantung," ujar Askari kepada Mitra TV Lampung.Com di kediamannya, Rabu (29/06/25).

Askari, seorang pedagang ikan keliling asal Kelurahan Kotabumi Ilir, Lampung Utara, berjuang demi kesembuhan anaknya yang mengalami bocor jantung.

Saat  pasangan suami istri tersebut tinggal di kontrakan sederhana di belakang sentral Kelurahan Kota Alam. Ia menjadi potret nyata perjuangan keluarga kurang mampu saat menghadapi cobaan berat.

Anak keduanya Anggia, bayi perempuan berusia 3 bulan, harus berjuang melawan sakit pneumonia dan kebocoran jantung.

Perjuangan keluarga Askari dimulai ketika Anggia pertama kali dirawat di salah satu RS di Kotabumi pada 30 April 2025. Kondisi Anggia yang memburuk membuatnya harus dirujuk ke RS Abdul Moeloek, Bandar Lampung. Selama sembilan hari di rumah sakit, Askari dan istrinya Een Safitri, serta anak pertama masih  berusia tiga tahun, bertahan dengan bekal seadanya—hanya membawa uang Rp50.000 untuk kebutuhan harian.

Walau biaya pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan, Askari tetap harus memikirkan kebutuhan sehari-hari. 

Kerja sebagai pedagang ikan keliling terpaksa ditinggalkanya untuk sementara demi mendampingi anak di rumah sakit, sehingga pemasukan keluarga pun terhenti. Beruntung, keluarga masih bisa membantu selama masa perawatan hingga Anggia dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang.

Namun, kebahagiaan itu hanya sementara. Satu bulan setelah pulang, kondisi Anggia kembali menurun dan harus dirawat lagi. Setelah tiga hari perawatan dan sempat membaik, penyakitnya kambuh, memaksa keluarga kecil ini terus bolak-balik rumah sakit hingga hari ini.

Dengan mata berkaca-kaca, Askari menceritakan perjuangannya membagi waktu antara mencari nafkah dan mendampingi anak di rumah sakit. “Saya kalau subuh ke pasar sentral untuk ambil ikan, saya bawa keliling. Kadang sehari dapat untung Rp80 ribu, kadang di bawah itu, Rp50 ribu. Uang itu harus saya cukupkan untuk membeli susu, dan menyisihkan untuk membayar kontrakan, dan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Askari mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan susu untuk kedua anaknya. “Istri saya ASI-nya tidak keluar. Kadang berat kalau harus beli susu anak yang harganya lumayan mahal, soalnya dokter bilang harus diberikan asupan gizi supaya berat badannya naik. Saya tidak punya uang, jadi saya belikan susu yang murah saja,” katanya dengan nada sedih.

Askari berharap ada perhatian dari pemerintah daerah maupun para dermawan untuk membantu kesembuhan anaknya. “Bapak Bupati Harmatoni dan Pak Romli, bantu saya, Pak. Dan para dermawan agar bisa membantu saya,” pinta Askari penuh harap.


(mir)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)