MITRA TV LAMPUNG. COM
Pada Ramayana versi pedalangan Jawa, cerita Romo Tambak menjadi salah satu episode yang sangat penting dan kaya makna. Kisah ini mengangkat perjuangan Prabu Ramawijaya (Rama) bersama para sekutunya, terutama bangsa wanara (kera), dalam membangun jalur menuju Alengka untuk menyelamatkan Dewi Sinta. Versi pedalangan Jawa memperkaya narasi asli Ramayana dengan tambahan tokoh dan nuansa kearifan lokal.
Berdasarkan penelusuran referensi digital ditemukan informasi sebagai berikut: Setelah menerima kabar dari Anoman bahwa Dewi Sinta berada di taman Argasoka di Kerajaan Alengka, Rama memutuskan untuk menyerang Rahwana. Namun, ia dihadapkan pada kendala besar: lautan luas yang memisahkan wilayah tempat Rama berada (biasanya digambarkan di kawasan India selatan) dengan Pulau Alengka.
Rama bersemedi di tepi laut, memohon restu kepada Bethara Baruna (dewa penguasa lautan) agar memberikan jalan bagi pasukannya untuk menyeberang. Pada awalnya, Samodra Raja tidak memberikan tanggapan. Rama, dalam kemarahannya, berniat menembakkan panah pusaka untuk mengeringkan lautan. Ketegangan ini membuat Bethara Baruna akhirnya muncul dan memberikan saran kepada Rama agar membangun tambak (bendungan) dengan bantuan para wanara.
Dengan perintah Rama, para wanara mulai membangun tambak menggunakan batu-batu besar yang diambil dari gunung dan hutan. Dalam versi Jawa, proses ini dipenuhi dengan adegan heroik dan humor, karena para kera sering digambarkan memiliki karakter unik: Anoman: Sebagai pemimpin utama, ia mengatur pembagian tugas dengan sigap. Sugriwa dan Subali: Mereka memimpin pasukan dengan kekuatan besar untuk membawa batu. Anggada, Jembawan, dan para wanara lainnya: Masing-masing memiliki peran penting dalam mempercepat pembangunan tambak.
Dalam beberapa versi pedalangan, Rahwana mencoba menggagalkan pembangunan tambak dengan mengirimkan pasukan raksasa atau menciptakan badai. Namun, para wanara berhasil menghalau gangguan tersebut dengan bantuan Hanoman dan Rama yang melindungi pekerjaan mereka.
Setelah usaha keras, tambak akhirnya selesai, dan jalur menuju Alengka terbuka. Tambak ini sering disebut sebagai Romo Tambak, dengan "Romo" bermakna ayah atau pemimpin, merujuk pada Rama sebagai pelindung dan pembimbing dalam perjuangan ini. Untuk kata “Romo” sampai hari ini melekat pada keluarga jawa panggilan kepada ayah, atau orang yang dituakan dan sangat dihormati.
Cerita Romo Tambak dalam pedalangan Jawa mengandung banyak pesan moral yang disesuaikan dengan budaya Jawa: Pertama, Semangat Gotong Royong. Pembangunan tambak adalah simbol kerja sama. Para wanara yang bekerja tanpa pamrih mencerminkan nilai gotong royong yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Jawa.
Kedua, Keimanan pada Kekuatan Ilahi. Keajaiban batu yang mengapung karena nama Rama menggambarkan kekuatan doa dan keimanan. Nama Rama sebagai lambang kebaikan dan keadilan menjadi kekuatan spiritual yang mengatasi batas-batas fisik. Ketiga, Keseimbangan Alam dan Manusia. Hubungan antara manusia, alam, dan dewa (Samodra Raja) mencerminkan pandangan kosmologis Jawa yang menekankan harmoni.
Semua di atas adalah dalam cerita Dalang yang pentas di pakeliran dengan Tema Cerita Rama Tambak dalam serial Ramayana. Namun dalam reaalita sangat berbeda, bahkan sangat bertentangan. Bisa dibayangkan ternyata “menambak Laut” yang semula ditafsir sebagai tindakan kepahlawanan, ternyata di alam nyata justru sebaliknya. Bahkan menjadi perusak eko sistem yang ada, dengan berkedok untuk kepentingan yang lebih besar.
Selama sepuluh tahun kita ternina bobok dengan tampilan yang sederhana seolah tanpa dosa, ternyata lautpun bisa dipagar sampai tigapuluh kilometer; bahkan itu tidak hanya di satu tempat. Dibeberapa tempat di negeri ini laut sudah berpagar, dan tanpa ada protes dari manapun. Lembaga Swadaya Masyarakat yang selama ini dikenal garang, ternyata bisa abai dengan pagar laut yang terus bertambah dan merebak di mana-mana.
Atas nama reklamasi, pengamanan wilayah, dan entah apalagi; semua bisa dilakukan; bahkan surat resmi dari negarapun ada. Setelah terbuka dan diambil tindakan; tidak satupun pejabat yang mau bertanggungjawab. Padahal mereka sudah terima “cuan” saat itu entah dengan atas nama “uang apa”. Dan, anehnya ada pejabat tinggi saat menjabat mengeluarkan surat ijin resmi, begitu di tanya, jawabannya ringan bagai kapas “saya tidak tahu”. Seolah berlaku hukum sosial kalau tanggung jawab sifatnya ke bawah, kalau uang sifat ke atas.
Kita tinggal tunggu apakah “langit” di negeri ini sudah juga disertifikatkan, karena bisa jadi nantinya orang memiliki lahan tidak berikut langitnya. Atau menjual langitnya saja, tidak berikut lahan atau bangunan dibawahnya; karena negeri ini sudah mendekati menjadi “negeri dongeng”.
Salam Waras
Tulis Komentar