Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
Sore menjelang senja dikejutkan dengan berita bahwa seorang paman, yang biasa kami sapa dengan nama jejuluk keluarga “Pak Dulloh”, telah berpulang beberapa hari lalu. Tentu saja membuat kami sekeluarga terguncang. Beliau selama ini menjadi penghubung berita jika pada keluarga “klan” kami ada peristiwa, terutama berita duka. Kini beliau sendiri menjadi berita.
Di dalam setiap keluarga besar, selalu ada satu sosok yang diam-diam memegang peran penting, tanpa banyak kata, tanpa sorotan, namun selalu hadir dalam setiap peristiwa penting: kelahiran, pernikahan, dan terutama, kematian. Sosok yang biasanya tidak diminta, tetapi dengan sendirinya mengambil tanggung jawab berat yang tak semua orang sanggup menjalaninya. Ia bukan pemimpin formal, bukan tokoh adat, tetapi kehadirannya menjadi jembatan antara yang hidup dan yang berpulang. Itulah peran almarhum Pamanda tadi.
Pamanda ini bukan tokoh masyarakat yang dikenal di media, bukan pula pemuka agama yang berceramah di mimbar. Namun di lingkup keluarga dan lingkungan kecil kami, ia adalah orang pertama yang dicari ketika ada kabar duka. Bukan karena ia menyukai kabar duka, tetapi karena beliau tahu bagaimana menyampaikannya. Ia tahu siapa yang harus dihubungi lebih dulu, tahu cara menyusun kalimat agar tak membuat panik, dan yang paling penting: ia selalu hadir, selalu tampil paling depan; bahkan sebelum diminta.
Pamanda mulai menjalani peran ini sejak usia muda, bahkan sejak sebelum kami mengenalnya. Kata orang-orang tua, sejak usia dua puluhan, pamanda ini sudah kerap membantu mengurus kematian tetangga, menjadi saksi hidup proses pemulasaraan jenazah, ikut mengantarkan jenazah ke makam, dan bahkan menenangkan keluarga yang ditinggalkan. Semua dilakukan bukan karena jabatan atau kedudukan sosial, melainkan karena rasa tanggung jawab dan empati yang dalam.
Di setiap peristiwa kematian, Pamanda yang mengangkat telepon dan mengabari sanak saudara. Ia mengatur siapa yang bertugas menjemput jenazah, siapa yang menyiapkan makanan untuk para pelayat, siapa yang menemani keluarga inti di rumah duka. Ia bahkan hafal siapa saja yang perlu dihubungi, lengkap dengan nomor telepon dan hubungan kekeluargaan mereka. Ia menjadi semacam ‘peta hubungan keluarga’ yang hidup.
Jika ada kematian maka beliau selalu berpesan: “kematian bukan akhir, melainkan momen yang menyatukan orang mati itu membawa orang hidup berkumpul”; begitu kalimat yang sering ia ucapkan. Dan memang benar, kami yang jarang bertemu kecuali di hari raya, justru berkumpul lengkap saat ada kematian. Dan di tengah semua itu, Pamanda selalu hadir, berdiri tenang, menenangkan, mengatur, sambil sesekali menyeka keringat dan air mata dibalik kacamata khasnya, yang muncul bukan karena duka, tetapi karena kelelahan dan haru yang berbaur.
Hingga tiba hari yang tak pernah kami bayangkan akan datang begitu cepat. Hari biasa yang tenang berubah menjadi hari yang sulit kami pahami. Kehilangan paman bukan hanya kehilangan seorang orang tua. Kami kehilangan sistem yang menopang dinamika keluarga besar kami. Kami kehilangan orang yang menjadi simpul pengikat, penghubung, dan pengingat bahwa hidup ini rapuh, dan kematian harus dihadapi dengan keberanian dan ketegasan.
Tangisan kami tak hanya karena duka biasa. Ada kesedihan yang lebih dalam: bahwa kami belum sempat menggantikan peran yang selama ini pamanda jalani. Bahwa kami terlalu bergantung pada beliau, tanpa pernah sungguh-sungguh menyiapkan diri untuk menjadi penerusnya. Bahwa kami telah membiarkan satu orang mengemban beban itu terlalu lama, sementara kami sibuk dengan urusan masing-masing.
Almarhum mengajarkan bahwa setiap peran, sekecil apa pun, punya makna besar dalam perjalanan hidup manusia. Beliau mengingatkan bahwa menjadi “penyampai kabar duka” bukanlah pekerjaan yang remeh. Di baliknya ada ketegaran, sensitivitas, kesabaran, dan keberanian yang tak banyak orang miliki. Beliau juga mengajarkan bahwa menjadi yang pertama menyampaikan kabar kehilangan, adalah bentuk tanggung jawab sosial dan sekaligus moral, yang tak bisa digantikan oleh teknologi, pesan singkat, atau media sosial.
Kami baru sadar, selama ini teknologi hanya alat. Ia tak bisa menggantikan kehangatan suara, penekanan nada, atau jeda yang diberikan sebelum menyampaikan kabar berat. Kami bisa mengirimkan ribuan pesan, tapi tak bisa meniru ketulusan dan keteguhan hati Pamanda saat mengucapkannya.
Menjelang hari ke-7 datang, kami sepakat untuk mengenang Pamanda bukan hanya dalam doa, tetapi dalam tindakan. Sebab beliau telah meninggalkan warisan yang jauh lebih bernilai: warisan keteladanan, keberanian dalam menghadapi duka, dan cara menjaga kohesi keluarga dalam senyap. Beliau mengajarkan bahwa menjadi pelayan bagi orang lain bukanlah tanda kelemahan, tapi kekuatan sejati. Ia memperlihatkan bahwa peran-peran kecil bisa membangun keutuhan yang besar. Dan kini, setelah beliau tiada, kami baru benar-benar memahami betapa berharganya kehadirannya. Kami belajar dari beliau, bahwa tidak semua orang ditakdirkan menjadi pembicara di depan forum, tetapi setiap orang bisa menjadi suara yang menenangkan di tengah badai. Tidak semua orang lahir sebagai pemimpin, tetapi setiap orang bisa memilih untuk hadir ketika dibutuhkan. Pamanda memilih untuk hadir. Dan kini ia telah berpulang, dengan meninggalkan ruang kosong yang tak bisa digantikan siapa pun, hanya bisa dilanjutkan dengan semangat yang sama. Selamat jalan Pak Dulloh. Istirahatlah dengan tenang. Tugasmu sudah selesai. Kini, kami yang akan melanjutkan.
Al-Fatihah.
Tulis Komentar