Keterangan Gambar : Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
SEMUA AKAN BERLALU
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
Frasa "semua akan berlalu" mengandung makna bahwa segala sesuatu dalam hidup, baik itu kesedihan, kegembiraan, penderitaan, atau keberhasilan, pada akhirnya akan berakhir atau berlalu. Ini adalah pengingat bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, dan bahwa perubahan adalah bagian alami dari kehidupan. Ketika seseorang menghadapi kesulitan atau kesedihan, frasa ini bisa menjadi penghiburan karena mengingatkan bahwa masa sulit tersebut tidak akan berlangsung selamanya. Di sisi lain, frasa ini juga mengingatkan kita untuk menghargai momen-momen bahagia dan keberhasilan karena juga akan berlalu seiring waktu. Dalam konteks filosofis, frasa ini mengajarkan kita untuk menerima ketidakpastian dan menyesuaikan diri dengan perubahan, serta untuk hidup dengan penuh kesadaran dalam setiap momen yang kita alami.
Dalam konteks spiritualitas Islam, kesadaran akan sifat sementara dari kehidupan dunia juga dapat menjadi sumber ketenangan dan kedamaian. Ketika seseorang memahami bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini akan berakhir, ia menjadi lebih mampu melepaskan diri dari keduniawian dan lebih fokus pada aspek spiritual keberadaannya. Dengan demikian, konsep "semua akan berlalu" dalam filsafat Islam mengajarkan umatnya untuk hidup dengan kesadaran akan sifat sementara dunia ini dan untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan yang abadi di akhirat.
Sayangnya konsep ketidakabadian itu sering dimaknai terbalik; sehingga dipahamkan “karena waktu didunia ini singkat, maka kumpulkan semua yang ada dan nikmati, toh nanti akan ditinggal mati”. Lebih parah lagi jika ditambah dengan anggapan “lain dunianya lain pula modelnya”. Akibatnya menghalalkan segala cara dalam mencapai apapun yang diinginkannya; termasuk mengubah aturan, mengingkari kesepakatan, mendholimi teman. Menjadi anomaly justru pelakunya dikenal sebagai tokoh, orang penting, dan label hebat lainnya yang melekat pada yang bersangkutan.
Banyak diantara kita tidak menyadari bahwa yang kejam di dunia ini adalah “waktu”; sebab apapun tidak mampu menghalagi jalannya, dan orang bijak mengatakan “Jantra tidak bisa dibayar dengan arta apalagi harta”. Terjemahan bebasnya bawa waktu itu tidak bisa dibayar dengan uang apalagi harta. Oleh sebab itu salah seorang sahabat rasullulah pernah berkata bahwa yang kejam itu adalah waktu.
Jika kita mau menyadari akan mutlaknya waktu diciptakan oleh Tuhan kepada kita, sampai-sampai Tuhan menegaskan dengan sempurna dalam menabalkan dalam Firman NYA; “demi waktu”; maka sudah selayaknya manusia sebagai mahluk harus tunduk akan hukum-hukum waktu yang akan melindas manusia dengan tiga dimensi yaitu: masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Masa kini itu adalah masa yang akan datangnya saat kemaren, dan masa lalu itu adalah masa kininya kemaren, dan seterusnya dia akan berputar sesuai dengan hukum Tuhan.
Persoalannya sekarang adalah banyak diantara kita tidak siap mengikuti berputarnya waktu, sehingga merasa yang diperolehnya hari ini akan abadi selamanya. Padahal pandangan itu sebenarnya melawan akan kodrat Tuhan; tentu saja yang bersangkutan akan dimakan oleh waktu, sehingga terlempar menjadi masa lalu.
Perjalanan kita masih jauh, oleh karena itu semua akan menjadi masa lalu. Sudah dinukilkan dalam kitab suci bahwa dunia ini hanya tempat bermain, yang akhirnya akan berakhir serta kita kembali melanjutkan perjalanan abadi. Mari mumpung masih ada waktu di akhir bulan suci ini untuk berbenah diri, mencuci tangan dan kaki dari dosa yang tak terperi. Semoga kita menjadi fitri dan bersiap untuk kembali keharibaan illahi. Entah kapan waktunya tetapi itu pasti. “Semua yang hidup pasti akan mati” jangan tanyakan kapan, dimana, dengan cara apa; karena itu milik Yang Maha Memberi, kita hanya diminta harus ihlas untuk menjalani.
Salam Jumat Akhir Romadhon 1445 H
Tulis Komentar