PUNCAK KEHIDUPAN Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

$rows[judul]

Dalam filsafat, konsep "puncak kehidupan" sering kali berkaitan dengan pencarian makna, kebahagiaan, dan pemenuhan diri yang utuh. Berbagai pemikir telah mengemukakan pandangan mereka tentang apa yang menyusun puncak kehidupan manusia. Dalam Islam, puncak kehidupan manusia sering kali dikaitkan dengan konsep mencapai ketaatan kepada Allah (taqwa) dan akhirat yang baik. Atau dengan bahasa lain puncak kehidupan dalam Islam mencakup aspek spiritual, moral, dan praktis, di mana individu mencapai kesempurnaan dalam ketaatan kepada Allah, berbuat baik kepada sesama, dan mempersiapkan diri untuk akhirat yang baik.

Banyak laku atau cara ditempuh untuk mencapai itu semua, dari yang sederhana sampai yang tingkat tinggi, bahkan wingit. Agama (Islam) telah memberikan tuntunan dan tontonan kepada umatnya agar dapat meneladani dan menjadikan panutan untuk mencapai puncak kehidupan. Tuntunan ada pada kitab suci  Alquran, sedangkan tontonan ada pada perilaku Nabi Muhammad.S.A.W; yang kita sebut hadist. Pada tataran ini semua umat Islam sepakat dan mupakat, hanya saja dalam aplikasinya kita jumpai varian yang beragam.

Namun ada nukilan para ulama sepuh yang mengatakan bahwa level tertinggi dari kehidupan seseorang adalah ketika dia bisa menerima dengan ihlas dan lapang dada apapun yang terjadi dalam hidupnya; berat dan ringannya, susah dan senangnya, kemudahan dan kesulitannya, jatuh dan bangunnya. Bagaimana caranya, yaitu selalu mencari dan melihat sisi baik dari semua peristiwa; sebab dalam peristiwa yang paling buruk sekalipun selalu menyisakan sisi baik. Tinggal kita sebagai manusia sudah sampaikah kita pada level itu.

Kita diharapkan mampu menangkap sasmito (pertanda) kehidupan, karena bisa jadi ada yang terlihat tenang namun sebenarnya dia sedang tidak baik-baik saja. Ada yang memilih diam, namun sebenarnya dia sedang dihantam berbagai masalah. Ada yang terlihat kuat, namun sebenarnya dia sedang terpuruk dan butuh teman untuk berbagi cerita. Akan tetapi dia sadar bahwa tidak semua orang mengerti, kebanyakan hanya ingin tahu saja. Hanya Allah yang Maha Tahu bagaimana sulitnya menahan sabar tanpa harus bercerita panjang lebar.

Karena dalam kehidupan ini ada rasa hampa yang tidak bisa di jelaskan, ada kepedihan yang tak mudah diungkapkan, ada kehilangan yang mau tidak mau harus diihlaskan, ada perpisahan yang memang harus direlakan. Dan, hanya bisa berucap maaf kepada hal yang pernah membuat luka. Karena, sekeras apapun kita menolak, yang datang akan tetap datang. Sekuat apapun kita menahan, yang pergi akan tetap pergi. Itulah takdir yang terjadi atas tiap-tiap mahluk; setiap mahluk termauk manusia dilahirkan dengan takdirnya masing-masing. Maka jangan ditangisi apa yang bukan menjadi milik kita. Syukuri saja apa yang menjadi miliki kita, walau mungkin jumlahnya sedikit. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita dari setiap karuniaNYA.

Mari ditengah-tengah bulan Syawal ini menjadikan kita untuk merenung diri sudah seberapakah kemanusiaan kita memanusiakan diri kita dan orang lain. Bisa jadi kita mampu memanusiakan orang lain, tetapi tidak mampu memanusiakan diri kita sebagai manusia. Atau sebaliknya jangan-jangan kita hanya pandai memanusiakan diri kita sendiri, tetapi tidak mampu memanusiakan orang lain.

Filosofi memanusiakan manusia adalah pandangan yang menekankan pentingnya menghormati, menghargai, dan memperlakukan sesama manusia dengan penuh empati, kesetaraan, dan keadilan. Filosofi ini menyatakan bahwa setiap individu, tanpa memandang ras, agama, jenis kelamin, atau latar belakang lainnya, memiliki martabat yang sama sebagai manusia.

Keseimbangan dan keberimbangan didunia ini adalah sunatullah, oleh sebab itu diperlukan kearifan diri untuk menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh mahluk ciptaanNYA siapapun dia, dan sekaligus semua itu meneguhkan bahwa kesempurnaan itu hanya milik NYA.

Salam Jumat. 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)