MEMINTA-MINTA, MEMINTA, TIDAK MINTA Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM- Saat menyimak tauziah dari seorang ulama besar di negeri ini tentang tingkatan berzikir menjadi teringat bagaimana konsep antara meminta-minta, meminta dan tidak minta. Hasil penelusuran digital dutemukan jejak sebagai berikut: Hakekat dari meminta-minta, meminta, dan tidak meminta memiliki perbedaan yang signifikan dalam konteks sosial, psikologis, dan spiritual. Berikut adalah penjelasan mengenai ketiga istilah tersebut: Pertama, Meminta-minta: Hakekat: Meminta-minta adalah tindakan meminta bantuan atau sumbangan secara terus-menerus dan berulang kali kepada orang lain tanpa berusaha untuk mandiri. Biasanya dilakukan oleh individu yang berada dalam kondisi sangat membutuhkan atau tidak memiliki sumber penghidupan yang layak. Konotasi Sosial: hal ini sering kali dipandang negatif dalam masyarakat karena dianggap tidak berusaha cukup keras untuk mencari solusi mandiri. Secara psikologis: Dapat mengindikasikan ketergantungan dan kurangnya rasa percaya diri atau motivasi untuk mengubah keadaan.

Meminta: Hakekat: Meminta adalah tindakan meminta sesuatu (bantuan, saran, dukungan, barang, atau jasa) kepada orang lain dengan tujuan tertentu. Meminta dilakukan ketika seseorang membutuhkan sesuatu yang penting dan merasa orang lain dapat membantu. Konotasi Sosial: Bisa dipandang positif atau negatif tergantung pada konteks dan cara seseorang meminta. Jika dilakukan dengan hormat dan alasan yang jelas, meminta bisa dianggap wajar dan bahkan dihargai. Secara Psikologis: Menunjukkan kesadaran akan kebutuhan diri dan kemampuan untuk mengenali serta memanfaatkan sumber daya di sekitar.

Tidak Meminta: Hakekat: Tidak meminta berarti seseorang berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bergantung pada bantuan orang lain. Ini mencerminkan kemandirian dan upaya maksimal untuk mengatasi tantangan secara mandiri. Konotasi Sosial: Sering kali dipandang sangat positif, karena menunjukkan tanggung jawab, kemandirian, dan usaha keras. Secara Psikologis: Menunjukkan rasa percaya diri, keberanian, dan ketahanan untuk menghadapi tantangan hidup.

Secara spiritual, dalam beberapa tradisi, tidak meminta dianggap sebagai bentuk tertinggi dari ketergantungan pada Tuhan dan keyakinan bahwa segala sesuatu yang dibutuhkan akan disediakan oleh Yang Maha Kuasa. Sementara meminta dengan cara yang tepat juga bisa dianggap sebagai bentuk doa atau permohonan yang tulus. Di sisi lain, meminta-minta tanpa upaya untuk mandiri mungkin dianggap sebagai kurangnya kepercayaan diri atau kurangnya usaha.

Sementara itu pandangan filsafat tentang ketiganya ditemukan informasi sebagai berikut: Dalam tinjauan filsafat, meminta-minta, meminta, dan tidak meminta dapat dianalisis dari berbagai perspektif seperti etika, eksistensialisme, dan pandangan filosofis tentang kemandirian dan ketergantungan.


1. Meminta-minta:

Etika: Dari perspektif etika, meminta-minta bisa dianggap sebagai tindakan yang kurang bermoral jika seseorang melakukannya tanpa alasan yang sah atau tanpa usaha untuk mandiri. Namun, dalam konteks kebutuhan mendesak, meminta-minta dapat dilihat sebagai hak asasi manusia untuk bertahan hidup.

Eksistensialisme: Dalam pandangan eksistensialisme, meminta-minta bisa dilihat sebagai kehilangan otentisitas diri karena individu tidak mengambil tanggung jawab penuh atas eksistensinya dan cenderung bergantung pada orang lain.

Pandangan Sosial: Filosofis sosial mungkin menyoroti struktur masyarakat yang menciptakan kondisi di mana orang harus meminta-minta untuk bertahan hidup, menekankan perlunya perubahan sistemik untuk mengatasi masalah ini.

2. Meminta:

Etika: Meminta dengan cara yang sopan dan berdasarkan kebutuhan yang nyata biasanya dianggap etis, karena menunjukkan kerendahan hati dan kesediaan untuk menerima bantuan. Namun, penting untuk menjaga keseimbangan antara meminta bantuan dan berusaha mandiri.

Eksistensialisme: Meminta dalam konteks ini bisa dilihat sebagai tindakan yang menunjukkan kesadaran diri dan pengakuan akan keterbatasan diri sendiri. Ini bisa menjadi bagian dari pencarian makna dan otentisitas dalam eksistensi seseorang.

Pandangan Sosial: Meminta bantuan bisa dianggap sebagai cara untuk memperkuat hubungan sosial dan kerja sama antar individu dalam masyarakat. Filosofis sosial mungkin melihat ini sebagai bagian dari jaringan solidaritas sosial yang penting untuk kesejahteraan kolektif.

3. Tidak Meminta:

Etika: Tidak meminta bisa dipandang sebagai tindakan yang sangat bermoral jika didasarkan pada kemandirian dan usaha keras. Namun, ada juga argumen bahwa menolak bantuan ketika diperlukan bisa menjadi tindakan yang tidak bijaksana dan bahkan egois.

Eksistensialisme: Dalam pandangan eksistensialisme, tidak meminta bisa dilihat sebagai tindakan otentis yang mencerminkan tanggung jawab penuh atas hidup sendiri. Ini menunjukkan keberanian untuk menghadapi tantangan dan penderitaan tanpa bergantung pada orang lain.

Pandangan Sosial: Dalam konteks sosial, tidak meminta bisa mencerminkan individualisme yang kuat, yang bisa menjadi baik atau buruk tergantung pada konteksnya. Filosofis sosial mungkin menekankan pentingnya keseimbangan antara kemandirian dan solidaritas sosial.

Refleksi Filosofis: Secara keseluruhan, tinjauan filosofis tentang meminta-minta, meminta, dan tidak meminta mencakup pertimbangan yang kompleks tentang moralitas, kemandirian, solidaritas, dan keberadaan manusia. Filosofi mengajarkan pentingnya mengenali konteks dan niat di balik tindakan tersebut, serta dampaknya pada diri sendiri dan masyarakat.

Namun pada konteks kekinian saat ini banyak kita jumpai sekelompok orang yang meminta-minta jabatan. Saking maunya meminta-minta untuk menjadi wakil-pun jadi, agar hasrat meminta-mintanya terpenuhi. Sementara yang kategori meminta, saat ini cenderung dibungkus dengan “sowan silaturahmi” kepada yang epunya; sehingga “meminta” nya menjadi tampak samar dan halus; walaupun menggunakan istilah Palembang “pijak kakinyo, senyum bibirnyo” merupakan jurus politik meminta model ini, terutama untuk jabatan yang banyak cuan-nya. Namun ada juga yang tidak meminta, tetapi berharap; model seperti ini adalah bentuk jaga image dalam bentuk lain. 

Berbeda lagi cara pandang kita saat melihat sekelompok orang memaksa meminta-minta kepada sopir truk yang lewat di jalan raya. Padahal secara hakekat mereka juga sebenarnya sama dengan peminta-minta jabatan atau kedudukan pada suatu lembaga, bedanya adalah “baju” yang mereka pakai. Yang satu menggunakan cara memaksa bila perlu menggunakan senjata tajam dan sering tidak berbaju secara fisik atau telanjang dada; sementara yang satunya memaksa tetapi menggunakan dasi, bahkan berbau wangi.

Apakah ketiga hal itu pelanggaran ?. sejauh tidak ada hukum formal yang dilanggar tentu sah-sah saja. Hanya saja di sana ada persoalan etika yang tentu saja menjadi sangat relative parameternya, karena perbedaan sudut pandang dari penggunanya. Bisa jadi mencari jodoh itu penting, namun menjodohkan juga tidak salah; karena keduanya ada aspek meminta, hanya saja dimana posisi meminta diletakkan; itu soal etika. Tuhan akan sangat senang mendengar pinta kita karena kita tidak meminta-pun Tuhan beri; namun jangan lupa usaha yang halal dan doa yang benar adalah wilayah mahluk NYA. Orang bijak pernah berpesan segunung emas tak akan cukup bagi orang yang serakah, namun sepiring nasi terasa cukup bagi orang yang selalu bersyukur.

Salam Waras 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)